Sabtu, 01 Agustus 2026

Titit dan Tetapan

Foto: Adhy Loa

Berulangkali mandi. 

Kesadaran masih ngorok.

Gayung air ditumpahkan.

Basah mengalir dari ujung rambut, turun ke wajah, lalu menyimpang di bawah pusar.

Selepas tiga puluh tahun, perasaan asing menderai lamunan.

Berulangkali aku memainkan titit.

Ketika menggesek-gesekannya alamiah terasa nikmat di kursi anyaman.

Dan ketahuan bapak. Usiaku lima tahun saat itu.

Frekuensi bertemu bergantung pada alarm biologis yang memerintah otak.

Biasanya urusan: kencing dan birahi.

Selebihnya, titit terkunci resleting dan celana dalam.

Bertahun-tahun bertemu dan membiarkan titit menunaikan tugasnya, aku merasa baik-baik saja.

Hingga selepas tiga puluhan, aku dirundung takjub.

Titit membuatku semakin rajin melamun. Membandingkannya dengan pistol.

Pistol memiliki lubang ke arah luar tempat peluru melesat ke sasaran objek dan ruang pengisian. 

Peluru keluar saat pelatuk ditarik. Mirip cara kerja titit. Ketika tangan memijitnya, dipersiapkan sebuah objek atau penampungan sperma yang segera melesat.

Bagi pria lajang, penampungan berakhir pada tisu, sedangkan pria menikah ada tubuh lain.

Ketakjuban diiringi rengekan miris. Lagi dan makin parah saat mandi.

Fungsi dan rasa nikmat yang selama ini menemani hanya topeng dari kuasa tetapan. 

Tetapan yang mengharuskan segala sesuatu hadir dan sebagaimana kehendak penciptaan.

Titit bagian tubuhku. Ada saat kehadirannya bikin susah. Sebab kutahu, yang telah dihadirkan membutuhkan gerak dan pencapaian.

Sepanjang hidup titit menuntut saluran pemenuhan.

Kesiapan tubuh dan pemenuhannya berhadapan dengan kompleksitas dunia manusia. Keduanya saling menggilas.

Pada siapa, mesti kugantung bara api kehidupan ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Titit dan Tetapan

Foto: Adhy Loa Berulangkali mandi.  Kesadaran masih ngorok. Gayung air ditumpahkan. Basah mengalir dari ujung rambut, turun ke wajah, lalu m...